Iqro Abdul
Matahari bak pemanggang raksasa di Kamis, 23 januari itu. Tiga volunteer Kendari Mengajar mengunjungi Puulonggida untuk sebuah pelajaran baru. BTA—Baca Tulis Al Qur’an. Sebuah agenda baru yang menjadikan jadwal kunjungan menjadi tiga kali dalam seminggu. Adalah Kak Nur, Kak Yaya, dan Kak Awal, yang hari itu menikmati pengalaman pertama menjadi pengajar Baca Tulis Al Qur’an.
Catatan Pengajar #6: Bahagia Itu, Sederhana
Pagi yang cerah, matahari bersinar menyambut sabtu, di penanggalan 26 April 2014. Seperti biasa, sabtu adalah hari dimana saya dan teman-teman yang tergabung sebagai volunteer pengajar di Gerakan Kendari Mengajar (GKM) akan kembali mengendarai kendaraan kami ke suatu desa yang letaknya cukup jauh dari pusat keramaian Kota Kendari, tepatnya ke SD N 20 Baruga, di Nanga-Nanga, Kecamatan Baruga.
Sebuah Ungkapan Sederhana
Kampung ini sangat memperihatinkan. Jalanpun Rusak juga listrik tidak ada. Meskipun tiang listrik sudah ada di depan mata tetapi saya belum percaya, listrik akan masuk. Pada setiap malam saya belajar memakai lampu pelita. Saya tinggal di Puulonggida sudah sangat lama, tapi peningkatan di Puulonggida belum juga ada, sangat malang kampungku ini.
Diary Gerakan Kendari Mengajar #6: Berbagi, Tidaklah Harus Mahal
Sabtu, 12 April 2014, adalah hari dimana kami kembali bertemu adik-adik kami di Puulonggida. Pengetahuan umum adalah jadwal pelajaran hari itu. Kami pun mencari ide kreatif apa lagi yang dapat kami bagi dengan adik-adik kami di pulonggida. Kamipun teringat, dulu ketika mengenyam pendidikan di bangku SD kami pernah membuat telepon sederhana yang terbuat dari gelas plastik
Catatan Pengajar #4: Lihatlah, Diamlah Saja, dan Kau Bukan Siapa-Siapa
Bayangan matahari bergulir pelan. Membawa sore datang lagi. Sekarang, waktu terasa seperti berlari. Sore-sore datang seperti berdesakan. Sementara langkah mengayun semakin pelan. Tapi jiwa-jiwa yang dahaga Restu Tuhan akan selalu terusik.









